PERDOSKI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN INDONESIA

Indonesian Society of Dermatology And Venereology (ISDV)


26 June 2018 | 08:00

Siapa Saja yang Wajib Skrining IMS?

Cegah IMS lebih baik daripada mengobati.

Share:

Risiko Infeksi Menular Seksual (IMS) tidak pernah lepas dari siapapun yang aktif secara seksual. Terutama jika hubungan seks dilakukan secara tak aman, seperti berganti-ganti pasangan, kontak seksual berisiko tanpa kondom, hubungan seksual sesama jenis, atau berbagi sex toys.

Pertanyaan yang sering muncul, "Bila saya melakukan kontak seksual berisiko, sekali saja, apakah saya bisa terkena IMS?" Jawabannya adalah YA. Melakukan hubungan seksual meski hanya sekali saja, bisa berisiko terkena IMS. 

IMS terkadang tidak menimbulkan gejala sehingga banyak yang tidak menyadari. Tapi ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan untuk tahu apakah Anda harus melakukan tes atau tidak, dan tes apa yang harus dilakukan.

1. Berusia di bawah 24 tahun, aktif seksual meskipun hanya monogami.

Anda dianjurkan untuk melakukan skrining setiap satu tahun untuk HIV, Sifilis, Klamidia, dan Gonore. 

Khusus para perempuan:  Bila aktif secara seksual, selain tes HIV, lakukan juga pap smear untuk memastikan kesehatan rahim. Apakah ada kelainan pada sel-sel rahim yang berpotensi kanker, yang mungkin disebabkan oleh virus HPV. 

2. Untuk para laki-laki heteroseksual.

Jika hanya melakukan seks dengan pasangan yang sama, maka dianjurkan untuk melakukan tes HIV. Namun jika berganti-ganti pasangan seks, tidak ada salahnya melakukan tes infeksi lainnya. Lakukan tes satu kali dalam setahun.

3. Calon pasutri (pasangan suami istri).

Anda wajib melakukan skrining darah untuk menyingkirkan infeksi sifilis dan HIV. 

Ada tes lain yang perlu dilakukan?

Selain pemeriksaan darah, tes lain yang Anda lakukan antara lain:

1. Pemeriksaan pap smear, atau anoskopi. Gunanya untuk menyingkirkan  adanya Infeksi Virus Human Papilloma (VPH ). Virus ini dapat menyerang laki-laki maupun perempuan.

2. Mengambil sedikit cairan dari daerah kelamin, urethra, atau anus. Lalu menguji sampel cairan tersebut untuk memastikan adanya infeksi Gonore & Chlamydia. 

3. Bila ada luka di sekitar area genital, ambil sampel darah dan sampel cairan dari area luka. Lalu menguji sampel tersebut juga dilakukan untuk menyingkirkan adanya infeksi Syphillis dan Herpes kelamin.

Cegah daripada mengobati

Ungkapan mencegah lebih baik daripada mengobati sangatlah tepat. Jika Anda sudah terkena IMS, maka prosedur pengobatannya sampai sembuh akan lebih panjang. Belum lagi ada risiko kematian karena IMS. Hal ini tentu akan memberi dampak pada kualitas hidup Anda dan pasangan Anda. Apalagi jika Anda sedang hamil, tentu akan berisiko pada janin.

BACA JUGA: Pentingnya Skrining HIV dan Sifilis untuk Deteksi Dini IMS pada Ibu Hamil

Agar bebas dari IMS, terapkan motto: 

1. Seks hanya dengan satu pasangan saja.  

2. Berhubungan seks secara aman. Gunakan kondom jika Anda atau pasangan Anda merasa berisiko infeksi.

3. Hindari seks pranikah. 

4. Jauhi narkoba.

5. Skrining IMS pranikah, dan perkaya diri dengan informasi IMS.

 

BACA JUGA: Mengapa Remaja Rentan Infeksi Menular Seksual?

Hati-hati, 3 Infeksi Menular Seksual Ini Sering Menyerang Laki-laki

Jl. Salemba I No.9, RT.4/RW.6, Kenari, Senen
Kota Jakarta Pusat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
10430