PERDOSKI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN INDONESIA

Indonesian Society of Dermatology And Venereology (ISDV)


23 October 2017

Anda Punya Keloid? Begini Cara Mengatasinya

Begini Cara Mengatasi Keloid.

Share:

Memiliki kulit yang rentan mengalami keloid memang kurang menyenangkan. Bagaimana tidak? Bila terkena luka, bekas luka bukannya menghilang, malah tumbuh menjadi lebih tebal dan besar, dengan warna yang berbeda dengan kulit asli.

Bagaimana Keloid Terbentuk?

Ketika kulit Anda terluka, maka akan terjadi penyembuhan luka dengan pembentukan jaringan baru. Jaringan fibrosa akan tumbuh untuk memperbaiki luka dan memperbarui kulit. Namun pada beberapa orang, terutama mereka yang mempunyai bakat keloid, jaringan tersebut justru tumbuh lebih besar dari bekas luka itu sendiri, sehingga timbul keloid.

Keloid tidak berbahaya. Namun bagi orang yang rawan keloid, luka sekecil apapun berpotensi berubah menjadi keloid. Keloid dapat timbul pada bagian tubuh manapun, terutama yang lebih sering mendapat tekanan, seperti dada atas, dagu, rahang bawah dan lengan. Tak jarang keloid juga terbentuk di area telinga dan punggung. Bagian tubuh yang jarang terkena keloid adalah area kelamin, kelopak mata dan telapak kaki.

Keloid adalah penyakit yang timbul dari faktor turunan atau genetik; dan umumnya diderita oleh pasien berusia 10-20 tahun. Orang yang berkulit hitam atau memiliki pigmen lebih banyak, lebih rentan terkena keloid dibanding orang yang jumlah pigmennya lebih sedikit.

Gejala Keloid

Berikut ini gejala-gejala timbulnya keloid:

  • Muncul perlahan. Pada umumnya, keloid tumbuh dalam waktu 3 hingga 12 bulan setelah terjadinya luka.

  • Berwarna merah muda, merah atau keunguan saat muncul pertama kali.
  • Tumbuh perlahan. Keloid dapat tumbuh lebih besar atau melebar dalam waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan.
  • Terasa gatal dan lunak, namun lambat laun akan mengeras
  • Saat keloid berhenti tumbuh, warnanya menjadi lebih gelap.

Jenis Luka Yang Dapat Menjadi Keloid

Beberapa jenis luka ini berisiko untuk tumbuh menjadi keloid:

  • Luka sayat sehabis operasi, misalnya bekas operasi caesar.

  • Jerawat
  • Luka gores atau garuk
  • Luka bakar
  • Tindik telinga
  • Bekas suntik vaksin

Pengobatan Keloid

Sebetulnya keloid tidak berbahaya dan tidak menimbulkan komplikasi apapun. Perawatan keloid lebih ditujukan untuk memperbaiki penampilan, khususnya bila terjadi di wajah atau yang mudah terlihat. Sebelum memberikan penanganan medis, pada umumnya dokter kulit akan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada pasien tentang seberapa penting tindakan penyembuhan keloid bagi diri pasien.

Suntikan kortikosteroid. Pasien pada umumnya perlu menjalani suntikan 1-2 kali seminggu. Suntikan ini ditujukan untuk mengecilkan ukuran keloid. Umumnya keloid akan mengecil 50%-80%. Meskipun demikian, terkadang keloid dapat tumbuh kembali 5 tahun kemudian.

Laser. Tindakan ini dapat mengurangi benjolan keloid dan menyamarkan warna. Seringkali dilakukan bersamaan dengan suntik kortikosteroid.

Cryotherapy. Prosedur yang dilakukan untuk membekukan keloid, sehingga keloid mengempis. Perawatan ini efektif dilakukan pada keloid berukuran kecil. Cryotherapy yang dilakukan sebanyak 3 kali atau lebih, hasilnya lebih maksimal.

Lembaran silikon dan gel. Terapi ini dilakukan dengan cara membalutkan gel silikon pada keloid untuk mengempiskan keloid. Studi menyebutkan 34% luka akibat keloid mengempis setelah pasien menggunakan gel silikon setiap hari selama beberapa jam dalam waktu 6 bulan.

Bedah keloid. Tindakan ini dilakukan dengan mengikis area keloid sepenuhnya. Namun perlu diingat, hampir 100% keloid tumbuh kembali, mengingat luka operasi adalah salah satu risiko penyebab timbulnya keloid. Biasanya pengobatan ini merupakan alternatif terakhir dengan mempertimbangkan semua risiko dan manfaatnya.

Terapi apa yang ingin Anda pilih untuk menghilangkan keloid? Jangan lupa untuk berkonsultasi dengan dokter kulit terlebih dahulu sebelum melakukan pengobatan.