PERDOSKI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN INDONESIA

Indonesian Society of Dermatology And Venereology (ISDV)


Volume 44, Nomor 4 | October 2017

Resistensi Obat Pada Pedikulosis Kapitis

Share:

Pada edisi kali ini terdapat beberapa laporan mengenai berbagai infestasi dan infeksi kulit dipandang dari perspektif pengobatan, pencegahan, sebagai bentuk komplikasi, patogenesis dalam menimbulkan lesi kulit, serta perubahan fisiologis kulit menua dalam menahan infeksi. Infeksi dan infestasi kulit masih terus terjadi dan masih banyak ditemukan pada populasi umum di Indonesia. Prevalensi infestasi kulit secara global pun masih bervariasi.

Salah satu topik mengenai pengobatan pedikulosis kapitis layak diperhatikan karena pedikulosis kapitis masih merupakan masalah kesehatan di dunia dengan prevalensi sangat beragam. Sekalipun telah terjadi pelbagai kemajuan dalam bidang kesehatan masyarakat di seluruh dunia, pedikulosis tetap merupakan masalah kesehatan di negara tertinggal dan negara berkembang.

Kontak langsung antar manusia merupakan cara utama penularan kutu kepala, sehingga kondisi lingkungan yang padat merupakan faktor risiko. Meskipun kutu rambut tidak berbahaya serta tidak menyebarkan penyakit, namun mudah menular dan menimbulkan rasa gatal yang sangat mengganggu dan memalukan. Gigitan kutu dapat menyebabkan gatal di kulit kepala, dan kekerapan menggaruk dapat menimbulkan iritasi kulit sampai terjadi infeksi. Di daerah beriklim tropis, infestasi kutu kepala merupakan penyebab tersering pioderma di kulit kepala.

Salah satu faktor yang sangat penting dalam eradikasi kutu kepala adalah memastikan bahwa infestasi tersebut dikenali dan diobati dengan tepat. Pengobatan kutu kepala harus disesuaikan dengan siklus hidup kutu tersebut. Sebagian besar bahan anti kutu bersifat pedikulosida, namun beberapa bersifat baik pedikulosida dan ovisida. Terapi dibagi atas metode kimiawi dan fisik, dan yang bersifat pedikulosida saja atau juga bersifat ovisida. Cara kimia akan memparalisiskan kutu sehingga berakhir dengan dehidrasi yang mematikan. Cara fisik atau mekanik akan membuat kutu mati lemas.

Pengendalian kutu kepala di seluruh dunia terutama bergantung kepada aplikasi insektisida, dapat berupa  organoklorin (lindan), organofosfat (malation), karbamat, permethrin dan ivermektin. Malation merupakan obat yang bersifat ovisida, meskipun sudah ditemukan yang resisten di Inggris. Lindan tidak banyak lagi digunakan karena potensial menimbulkan neurotoksisitas dan dapat mencemari lingkungan.

Kegagalan terapi ditandai dengan ditemukannya kutu hidup dalam waktu 2 atau 3 hari setelah menjalani rangkaian pengobatan lengkap (dua kali aplikasi obat dengan interval waktu 7 hari). Sulit mendapatkan angka sebenarnya kegagalan terapi pada anak yang menderita kutu kepala.   Kalangan dokter spesialis anak mengatakan frekuensi kegagalan terapi sebesar kurang dari 10% untuk rekurensi jangka pendek (kurang dari 2 bulan setelah pengobatan). Sepertiga dokter spesialis anak melaporkan frekuensi kegagalan terapi sebesar 30-50%.  Sebagian besar menganggap rekurensi sebagai akibat infestasi ulang pada komunitas anak-anak. Penting pula diperhatikan temuan telur atau rasa gatal bukan sebagai petanda kegagalan terapi.

Dalam 10 tahun belakangan ini penggunaan obat topikal pedikulosida konvensional semakin dikaitkan dengan kegagalan terapi dan munculnya resistensi. Beberapa faktor diduga menyebabkan kegagalan terapi, yaitu penggunaan pedikulosid dengandosis atau lama pengobatan yang kurang tepat, jenis formula yang tidak benar, atau resistensi genetik pada kutu. Mungkin dengan membatasi kemudahan memperoleh pedikulosid dengan resep dokter dan pemakaian obat dengan dosis dan waktu yang tepat dapat membantu mencegah kegagalan terapi.

Penggunaan bahan-bahan pedikulosida yang berulangkali disinyalir telah menimbulkan populasi kutu kepala yang telah resisten. Beberapa studi melaporkan semakin meningkatnya laju resistensi kutu terhadap pedikulosid topikal.Terdapat 3 pola utama resistensi, yaitu resistensi genetik (terdapat poliorfisme dalam gen yang berkaitan dengan resistensi); resistensi klinis (kutu yang tetap hidup setelah 1 siklus aplikasi obat); resistensi parasitologik (resistensi in vivo pada kutu terhadap komponen pedikulosida). Saat ini, kegagalan terapi dianggap lebih sering akibat resistensi daripada karena ketidakpatuhan pasien.

berulang untuk mengendalikan kutu kepala dalam dekade terakhir telah menimbulkan resistensi yang semakin meningkat. Bahkan telah ada laporan mengenai resistensi terhadap 1% permetrin, meskipun prevalensinya masih belum diketahui.Pertama kali digunakan pada tahun 1986, resistensi terhadap permethrin semakin meningkat, mencapai 50% pada laporan beberapa studi.

Tulisan dalam edisi ini membahas aplikasi losio permetrin 5% selama 10 menit dalam waktu 14 hari dengan efektivitas yang sangat baik dan efek samping yang sangat kecil. Kemudahan pemakaian obat diharapkan dapat mengurangi ketidakpatuhan atau ketidaktepatan dalam dosis dan waktu. Meskipun demikian, perlu pula dipikirkan kemungkinan dapat terjadi resistensi di kemudian hari.

Wresti Indriatmi
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
FKUI – RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Info! Silahkan login(dokter) untuk download full edition.

Jl. Salemba I No.9, RT.4/RW.6, Kenari, Senen
Kota Jakarta Pusat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
10430