PERDOSKI

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KULIT DAN KELAMIN INDONESIA

Indonesian Society of Dermatology And Venereology (ISDV)


Volume 44, Nomor 2 | April 2017

PSIKODERMATOLOGI

Share:

Dalam pengalaman praktik dokter spesialis kulit, tidak jarang menjumpai pasien yang tampak sangat cemas akan penyakit yang dialaminya; terlebih bila penyakit atau gangguan itu sudah berlangsung lama atau berulang. Sementara pasien lain dengan kasus serupa, bersikap wajar. Kecemasan ditunjukkan dengan berbagai kekhawatiran dan keluhan atau tingkah-laku (behavior), yang kadang berlebihan sehingga menjurus kearah gangguan psikiatrik. Hal tersebut tentu akan memengaruhi kualitas hidup yang bersangkutan, bahkan tidak jarang berdampak pula pada keluarga terdekat.

Psikodermatologi adalah bidang baru dermatologi dan psikiatri, mencakup aspek psikiatrik penyakit kulit, dan manifestasi penyakit kulit karena masalah psikiatrik. Psikodermatologi juga disebut kedokteran psikokutan, merupakan perbatasan antara psikiatri dan dermatologi.1

Seperti telah diketahui bahwa ada hubungan antara kulit dan otak; keduanya berasal dari perkembangan lapisan
embrionik yang sama yaitu ektoderm. Dari etoderm akan terbentuk sistem saraf pusat dan perifer, hipofisis, kulit dan adneksanya, kelenjar mamari, gigi, dll. Sehingga bila terjadi gangguan psikologik dapat menimbulkan penyakit kulit,
dan sebaliknya penyakit kulit dapat menimbulkan gangguan psikologik.2 Dengan makin berkembangnya psikoneuroimunologi, maka patofisiologi psikodermatologi lebih mudah dipahami.2,3

Psikoneuroimunologi adalah pengetahuan bagaimana faktor psikologi dapat mempengaruhi sistem imun dan
fungsi imun. Ada hubungan fisiologik antara sistem saraf pusan (CNS) dan sistemimun. Bila terjadi rangsangan
berupa tekanan fisik, mental atau emosional melebihi ambang batas keseimbangan seseorang, maka akan terjadi
stres psikologik. Otak akan merespons lewat dua jalur utama yaitu melalui sumbu HPA dan sistem saraf
simpatetik.3Gangguan psikodermatologi diklasifikasikan sebagai berikut:4

1). Gangguan Psikofisologik ; kelainan kulit timbul atau kambuh oleh karena stres fisiologik, dan pasien menyadari
dengan jelas kejadian ini sebagai contoh: akne vulgaris, dermatitis atopik, psoriasis, urtikaria, dll. 2). Gangguan
psikiatrik dengan keluhan kulit; yang terlihat adalah kelainan yang timbul akibat tindakan pasien sendiri, selalu
berasosiasi dengan dasar psikopatologi dan yang dikenal dengan stereotipe penyakit psikodermatologik, contoh:
body dysmorphic disorder, delusi parasitosis, trichotillomania, dermatitis faktisial, dll. 3). Gangguan kulit dengan keluhan psikiatrik; masalah emosional lebih menonjol karena penyakit yang dideritanya, dan akibat psikologik lebih berat dibandingkan dengan kelainan kulit, contoh: albinism, iktiosis, psoriasis, vitiligo, alopecia areata, dll. 4). Miscellinius; beberapa gangguan lain dimasukkan dalam kelompok ini, termasuk efek samping obat yang digunakan untuk mengobati gangguan psikiatrik dan penyakit kulitnya, contoh: Sindrom purpura psikogenik, Sindrom sensori kulit.

Penatalaksanaan kasus psikodermatologi tidak cukup hanya dengan farmakoterapi melainkan perlu disertai psikoterapi. Di negara lain misalnya Eropa termasuk Inggris, juga di Amerika, psikodermatologi sudah jauh berkembang. Bahkan sudah ada asosiasinya yang anggotanya terdiri atas spesialis dermatologi, kesehatan jiwa (psikiater) dan psikologi; misalnya di Eropa: the Europian Society of Dermatology and Psychiatry (ESDaP), di Amerika: Association for Psychocutaneous Medcine of North America (APMNA), di Inggris: Psychodermatology UK, dan di Jepang: Japanese Society of Psychosomatic Dermatology (JPSD).4 Dari website, asosiasi tersebut juga menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan psikodermatologi dan pertemuan ilmiah tahunan.

Bagaimana perkembangan psikodermatologi di Indonesia? Menurut R.K.T.Ko, (Spesilais Kulit senior Indonesia yang berpengalaman dibidang psikodermatologi), sejauh ini masih sedikit speialis kulit yang berminat dibidang ini; sementara pasien psikodermatologi cukup sering dijumpai .5

Akibatnya pelayanan yang optimal belum dapat diberikan oleh spesialis kulit yang tidak berpengalaman dibidang
psikoterapi. Sementara pasien kulit yang diduga mengalami gangguan psikologik, biasanya menolak untuk dirujuk ke
psikiater atau psikolog.

Kiranya sudah waktunya PERDOSKI bersama dengan Penyelenggara Program Pendidikan Spesialis Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, merencanakan menambah materi pembelajaran perihal penata-laksanaan psikodermatologi,
khususnya psikoterapi dalam kurikulumnya, dengan melibatkan psikiater dan atau psikolog. Dengan demikian
diharapkan bahwa ke depan para Spesialis Kulit dan Kelamin mempunyai kompetensi memberikan pelayanan yang
terbaik kepada pasien psikodermatologi, seperti yang telah dikerjakan oleh The European Academy of Dermatology
and Venereology (EADV) bekerjasama dengan the European Society for Dermatology and Psychiatry (ESDaP).6

Sri Adi Sularsito
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
FKUI – RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

Info! Silahkan login(dokter) untuk download full edition.

Jl. Salemba I No.9, RT.4/RW.6, Kenari, Senen
Kota Jakarta Pusat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
10430