Ramah, lugas, dan berwibawa.
Hal ini terbukti dengan banyaknya kursus dan kegiatan sosial dalam bidang IMS yang beliau ikuti. Bahkan hingga saat ini beliau masih aktif dalam organisasi dan kelompok studi dalam bidang IMS baik di dalam maupun di luar negeri.
Berangkat dari kecintaannya pada bidang IMS, beliau memutuskan untuk mengangkat topik mengenai “Infeksi Menular Seksual dan Permasalahannya” sebagai pidato Purnabakti Guru Besar beliau pada tanggal 20 November 2008 lalu. Topik ini sangatlah relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, mengingat masih banyaknya masalah yang dihadapi dalam kesehatan reproduksi, khususnya mengenai IMS.
“Sesungguhnya IMS bukan hanya masalah kesehatan tapi juga menyangkut masalah sosial, budaya, ekonomi dan politik”, ujar suami dari dr. Emmy Soedarmi Sjamsoe, Sp.KK(K) ini.
Dalam pidato siang itu, beliau juga mengatakan bahwa bila ditinjau dari segi usia, pasien IMS yang paling menderita adalah kelompok usia muda, karena perilaku dan kondisi biologisnya belum matang. Mengacu pada fakta tersebut, masalah komunikasi, informasi, dan edukasi mendapat tempat pertama dalam bidang kesehatan, mengingat pentingnya pendidikan seksual dalam perkembangan masalah IMS.
Terdapat fenomena dalam masyarakat Indonesia, dimana masalah seksual masih tabu untuk dibicarakan, padahal pendidikan seksual harus sudah dimulai sejak dini dalam keluarga. Kurangnya pengetahuan seksual yang baik menyebabkan anak cenderung mencari informasi dari banyak media cetak ataupun elektronik yang semakin mudah diakses sehingga masih banyak informasi yang keliru.
Yang tidak kalah memprihatinkan adalah masalah pencegahan. Berdasarkan hasil survey pada 17 kota besar di Indonesia, terlihat betapa usaha pencegahan yang dilakukan oleh para wanita penjaja seks (WPS) sangatlah minim. Hanya sebagian kecil di antara mereka yang pernah / selalu memakai kondom saat melayani tamunya dan sebagian besar melakukan penyucian alat kemaluan yang salah dan mengonsumi obat yang tidak rasional.
“Bahkan terkadang tamu mereka yang menolak menggunakan kondom sehingga diperlukan toleransi dan kesadaran baik dari WPS ataupun pasangan seksual mereka”, tambah ayah dari 2 putra dan 2 putri ini.
Belum selesai masalah IMS, Indonesia juga diramaikan dengan infeksi HIV dan penyalahgunaan narkoba. Mengenai hal ini, beliau yang menjabat sebagai sekretaris Pokdisus AIDS FKUI-RSCM berkomentar bahwa IMS, infeksi HIV dan penyalahgunaan narkoba tidak dapat dipisahkan. Karena masalah seks bebas banyak dilatarbelakangi oleh penyalahgunaan narkoba itu sendiri.
Untuk itu dibutuhkan kesadaran penderita dan pemakai narkoba untuk bertoleransi dengan tidak melakukan hal yang dapat menularkan infeksi mereka kepada yang lain, begitupun sebaliknya. Stigma negatif masyarakat terhadap IMS, infeksi HIV dan narkoba juga perlu dibenahi untuk masa depan yang lebih baik. Bahkan jika memungkinkan, perlu dilakukan terapi psikososial untuk para penderita IMS, infeksi HIV ataupun pemakai narkoba
Post : 23 Juli 2009 12:07:05, Read : 553
Related News
- 01 Maret 2010 14:24:58 Kegiatan PERDOSKI 2010
Rencana kegiatan PERDOSKI mulai Januari-Desember 2010
- 15 Februari 2010 10:15:44 13th World Congress
"13th Wordld Congress on Cancer of The Skin
- 16 Desember 2009 09:10:55 16th IUSTI & 11th PIT
Final call for Early Bird Registration:
16th INTERNATIONAL UNION AGAINTS SEXUALLY TRANSMITTED INFECTIONS (IUSTI)
ASIA PACIFIC CONFERENCE (May 4-6, 2010)
AND
11th ANNUAL SCIENTIFIC MEETING (PIT) INDONESIA SOCIETY OF DERMATOLOGY & VENEREOLOGY (PERDOSKI) (May 7-8, 2010)DISCOVERY KARTIKA PLAZA HOTEL KUTA BALI
MAY 4-8, 2010Deadline on 28 February 2010
No more extension